MATA TAJAM

Membaca Peristiwa Menggambarkan Fakta

Bahaya Penyakit Tuberculosis Atau TBC Masih Tinggi di Sumut

2 min read
Tuberculosis
Tuberculosis

Matatajam.com, Medan – Tuberculosis (TB) menjadi salah satu penyakit yang cukup tinggi di Sumatera Utara (Sumut). Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan, pada 2018 sebanyak 6.267 kunjungan pasien TB yang melakukan rawat jalan. Sedangkan data dari Januari sampai bulan Mei 2019 ada 834 jumlah kunjungan pasien TB rawat Jalan.

Kasubag Humas RSUP Haji Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak mengatakan untuk pasien tahun 2019 yang rawat inap pada Januari sampai Mei 2019 ada 193 pasien.

“Kalau data untuk 2018 ada 433 pasien. Pasien TB memang cukup tinggi di sini. Apalagi rumah sakit ini tipe A yang mana pasien tidak berasal dari Medan saja melainkan dari luar Medan seperti Aceh, Kisaran, Sibolga dan lainnya,” katanya pada medaninside.com, Sabtu (29/6).

(Baca Juga: AWAS…!!! Bahaya Simpan Bahan Bakar Minyak Terlalu Lama Dalam Tangki Kendaraan)


Terpisah, Pengamat Kesehatan, dr Delyuzar Sp PA (K) mengatakan orang dengan Penyakit TB lantaran ada faktor penularan. Maka yang paling penting adalah melakukan pengobatan terhadap penderitanya agar tidak menularkan.

“Jadi bila kita melihat data yang tinggi itu berarti ada upaya melakukan penemuan kasus TB. Hal ini justru akan lebih baik dari pada kita tidak menemukan kasusnya dan berkeliaran di masyarakat. Untuk itu, orang yang terkena TB itu harus segera diobati dan harus dicari dari mana ia mendapatkan penyakitnya itu,” katanya.

Selain diobati, Ketua Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) ini mengungkapkan harus dilakukan investigasi siapa saja yang sudah tertular penyakit TB tersebut. Karena bila masih ada penderita apalagi yang tidak terdeteksi dan dia tetap berkeliaran maka ada resiko tinggi akan penularan penyakit TB tadi.

“Jadi, orang yang kurang gizi akan mengakibatkan daya tahannya rendah dan pasien Diabetes Melitus (DM) juga mudah terinfeksi TB juga. Termasuk pasien yang memiliki daya tahannya memang menurun termasuk pasien HIV-AIDS yang memiliki kontribusi untuk meningkatkan kasus TB ini. Bahkan belakangan ini cukup tinggi kasus penyakit DM disertai dengan TB,” jelasnya.

Untuk itu agar tidak mudah terinfeksi TB, Delyuzar menyarankan agar meningkatkan daya tahan tubuh dengan gizi yang cukup, istirahat yang cukup. Sehingga bila ada penderita TB di sekitar kita kondisi daya tahan kita akan lebih tinggi. Namun kalau kita kurang gizi dan ada penyakit yang menyebabkan daya tahan kita menurun resiko untuk tertular akan lebih banyak.

“Apalagi kalau mengalami batuk lebih dari 2 sampai 3 minggu dan berat badan menurun, nafsu makan menurun ditambah ada batuk berdarah maka harus diwaspadai cepat lakukan pemeriksaan. Sebab penanganan TB cukup lama dan konsumsi obat harus teratur 6 sampai 9 bulan,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *